Paradox : If you love until it hurts, then there is no hurt, but only more love (mother Theresa)

Logikanya..

Seharusnya..

Semakin kita disakiti ataupun merasa sakit akan suatu keadaan. Maka seharusnya kita mundur teratur untuk keluar dari keadaan itu. Tapi pada kenyataannya, semakin kita sakit justru kadang perasaan itu semakin kuat.

That’s why kenapa banyak lagu cinta yang bertemakan ‘bertahan’. Kadang perasaan memang sulit diimbangi dengan kemampuan logika untuk menetralkannya.

Beberapa dari kita memiliki kecenderungan tidak puas dan selalu ingin tahu. Jadi ketika menghadapi sesuatu yang seharusnya memang harus diakhiri, kadang kita terus bertahan sehingga perasaan cinta itu kadang gak murni lagi karena banyak sugesti yang kita tanamkan sendiri di diri kita. Itu cuma rasa penasaran, pembuktian eksistensi, yang tanpa kita sadari kita ada di jalur yang salah.

Logikanya, klo kita dikecewakan orang lain pasti kita menjaga jarak atau tidak membiarkan diri kita terus berada dalam kondisi itu dan gak mau dikecewakannya lagi kemudian belajar dari sana agar tidak terulang lagi.

Konteksnya dengan perasaan ‘cinta’ memang beda. Kita gak bisa memang memperlakukan orang yang biasa-biasa aja sama dengan orang yang kita cintai secara khusus. Tapi kita perlu menyadari bahwa ‘bertahan’ dan mengharapkan itu berjalan sama dengan keinginan kita bukanlah hal yang mudah, bukan keharusan, dan bukanlah hal yang perlu. Bukannya gak mau berkorban, tapi terlalu dini berkorban untuk hubungan yang masa depannya belum cerah dan terlalu sia-sia menjalani hubungan yang tidak kita temukan kebahagiaan didalamnya. Kita gak punya banyak waktu untuk membiarkan diri kita terpuruk dan mencari kepastian terlalu lama.

Kita masih punya diri kita sendiri untuk dipertimbangkan, untuk dicintai, dan untuk dipastikan bahwa kita pantas mendapatkan hal yang lebih baik. Lagipula, what good is love when it keeps on hurting you?