Bulan terburuk = Bulan terbaik ??

by Indah Parmalia

Sepertinya..bulan ini banyak bner cobaan buat aku.

Banyak banget kejadian-kejadian yang tampak memojokkan, menyedihkan, mengecewakan, bahkan menyakitkan meskipun sesungguhnya itu hanya cara Allah  mendewasakan aku.

Tahun ini, pertengahan bulan ini..bakalan pertama kalinya umur aku yang tadinya angka satu didepan berubah jadi angka 2. Tahun ini aku 20 tahun.

Aku tau walaupun semua yang terjadi itu gak bisa selalu diiringi tawa,  tapi aku bersyukur atas setiap air mata yang aku tetesin, artinya Allah sedang mengepel hati aku yang mulai kotor.

Tapi semua kejadian-kejadian harus ada recordnya, pencatatannya. Kayak Akuntansi kan Pencatatan berupa Laporan Keuangan merupakan hal penting dimana kita bisa membaca posisi suatu perusahan dari berbagai aspek.

Bulan ini, dibuka dengan aku harus menerima kenyataan bahwa.. IP aku turun agak drastis.. Tapi aku gak langsung gelisah dan stress kayak anak-anak yang lain. Aku cukup kecewa pas pertama kali liatnya, melenceng dari target, melenceng dari harapan. Lantas..salah kah aku punya harapan? Apa aku harus marah dengan diri aku yang udah diguncang kekecewaan ini? Pasti engga..dan aku gak setega itu. Ya apa boleh buat, disuruh balik ke masa lalu pun aku gak mau meskipun ada jaminan lebih baik. Aku tau terlalu berlebihan klo aku bilang ini takdir aku dapet IP kecil –aku gak bisa terlalu ekstrim buat membesarkan hati aku sendiri–. Aku cuma kurang bertanggung jawab, kurang tegas, dan sedikit malas. Kenapa aku bilang kurang dan sedikit –berarti masih ada kan walaupun sedikit!–, karena aku tau sesungguhnya aku masih sadar akan tanggung jawab, masih punya keinginan untuk bersikap tegas, dan masih punya semangat untuk lebih rajin. Sayangnya, kesadaran untuk selalu memotivasi itu yang kurang. Juga kebiasaan untuk bersenang-senang dahulu perlahan mampus kemudian yang masih juga jadi parasit buat aku. Ya aku tau Darwin bilang aku ini hanya seekor kera, klo gak mau dibilang kera, aku harus mati-matian jadi manusia. Aku gak mau ngeliat kegagalan kecil ini lagi. Take a chance and make a change!

Aku sepertinya banyak mendengar kata-kata yang menyakitkan dari orang yang aku sayangi this month. Aku tau dia gak bermaksud seperti itu dan yang dia bilang memang apa adanya. Hanya aja, karena keluar dari mulutnya, aku jadi double sensitive. It doesn’t matter klo misalnya kalimatnya buat mengevaluasi aku, tapi klo itu berupa statement menyakitkan, bagaimana cara menahan sakitnya? Aku bukan orang yang ekspresif dalam situasi seperti ini. Aku cuma bisa diem. Memangnya harus apa? ngebales? Gak bisa, berharap membenci buat apa juga, mencoba biasa tapi terngiang. Yah..berharap suatu saat semua kalimat itu menumpuk jadi boomerang buat mengembalikan rasa-rasa yang terasa.

Dan bulan februari ini, yang kata orang-orang bulannya cinta memang kebetulan benaar. Aku telah menyaksikan drama percintaan kuno. Aliran minoritas yang sedikit penganutnya. Kegilaan akan cinta stadium akut. Penyakit yang penderitanya menderita kebutaan hati. Seperti tak terobati. Ngebuat aku mau gak mau kehilangan teman dibawah lampu yang padam, aku tau gak berapa lama lampu akan menyala dan aku akan segera menemukannya kembali. Tapi selagi lampu masih padam, aku takut..temanku yang aku tau lebih penakut dari aku bagaimana bisa tenang sebelum aku menemukan dan merengkuhnya? Disini..bagian ini mengajarkan aku bahwa hidup memang pilihan. Pilihan yang tampak lebih sulit atau paling tidak mungkin lah yang sebenarnya mungkin terbaik untuk terpilih. Nothing is impossible.

Besok..tetap di bulan yang sama ada suatu perayaan pertanda. Hal yang paling aku gak suka dalam hidup ini, tapi paling sarat makna. Perpisahan.. Mungkinkah aku bakal merasa kehilangan? Aku inget dulu aku pernah nangis histeris semingguan setiap harinya pas sahabat yang paling aku sayang ninggalin aku ke kota lain. Wauwh rapuh banget.. Aku bahkan kepikir lebih baik aku begini..begitu.. daripada aku harus kehilangan dia. Aku yang selama ini ada dia buat berbagi, harus sendiri. Tapi setiap pedih air mata itu ternyata bukan tetesan sia-sia, justru semakin menguatkan aku. Kita memang sering rela untuk menukarkan hal yang telah kita punya denan sesuatu yang belum teraih. Padahal kita gak pernah bener-bener tau apakah itu memang lebih baik atau enggak. Aku cuma mau berpikir simple, bahwa kehilangan itu berarti kita pasti diberi ganti yang lebih baik atau dikembalikan di waktu yang lebih bermakna. Tergantung sepositif apa kita beranggapan.

Bulan ini yang memang tampak seperti bulan terburuk buat aku, sebenernya bulan terbaik. Tergantung apa itu definisi ‘baik’ untuk dan menurut kita.