Filosofi Sabar dalam Al Quran

by Indah Parmalia

Beberapa hari yang lalu, aku ga sengaja baca crita dibawah ini dari sumbernya langsung.. Cerita ini sarat makna..meaningful! Dari sumber yang sangat terpercaya dan based on true story.. Bahasa nya memang susah di cerna,,karena mungkin pembaca diharapkan untuk bener2 memahami dan merasapi tiap bagiannya. Yang jelas,,gak akan nyesel dan gak akan buang waktu klo kamu (iya, kamu yang baca sekarang!) baca cerita ini ampe abis..

Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada temannya: Aku tidak akan berhenti sehingga aku bertemu dua laut itu, atau aku berjalan terus bertahun-tahun.

Maka apabila mereka berdua sampai ke pertemuan dua laut itu, lupalah mereka akan ikannya, lalu ikan itu menggelunsur menempuh jalannya di laut.

Setelah mereka melampaui tempat itu, berkatalah Musa kepada temannya: Bawalah makanan kita, sebenarnya kita telah keletihan dalam perjalanan ini.

Temannya berkata: Tahukah apa yang terjadi tatkala kita berehat di batu besar itu? Sebenarnya aku lupakan hal ikan itu; dan tiadalah yang melupakanku melainkan Syaitan untuk mengingatinya; dan ikan itu telah menggelunsur menempuh jalannya di laut, dengan cara yang menakjubkan.

Musa berkata: Itulah yang kita kehendaki; Mereka pun balik semula ke situ, dengan menurut jejak mereka.

Lalu mereka dapati seorang dari hamba-hamba Kami, yang Kami berikan kepadanya rahmat dari Kami, dan Kami telah mengajarnya satu ilmu; dari sisi Kami.

Musa berkata kepadanya: Bolehkah aku mengikutmu, supaya kamu mengajarku dari apa yang telah diajarkan oleh Allah kepadamu?

Ia menjawab: Sesungguhnya engkau wahai Musa, tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku.

Dan bagaimana engkaudapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?

Nabi Musa berkata: Engkau akan dapati aku, insya-Allah, orang yang sabar dan aku tidak akan membantah sebarang perintahmu.

Ia menjawab: Sekiranya engkau mengikutku, maka janganlah engkau bertanya kepadaku akan sesuatu pun sehingga aku ceritakan halnya kepadamu.

Lalu berjalanlah keduanya sehingga apabila mereka naik ke sebuah perahu, ia membocorkannya, Nabi Musa berkata: Patutkah engkau membocorkannya akibatnya akan menenggelamkan penumpangnya? Sesunggguhnya engkau telah melakukan satu kesalahan yang besar.

Ia menjawab: Bukankah aku telah katakan, bahawa engkau tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku?

Musa berkata: Janganlah kamu marah akan daku disebabkan aku lupa; dan janganlah kamu memberati daku dengan sebarang kesukaran dalam urusanku.

Maka berjalanlah keduanya sehingga apabila mereka bertemu dengan seorang pemuda, lalu ia dibunuhnya. Musa berkata: Patutkah kamu membunuh satu jiwa yang bersih, yang tidak berdosa? Sesungguhnya engkau telah melakukan satu perbuatan yang mungkar!

Ia menjawab: Bukankah aku telah katakan kepadamu, bahawa kamu tidak akan dapat bersabar bersamaku?

Musa berkata: Jika aku bertanya kepadamu tentang sebarang perkara sesudah ini, maka janganlah engkau jadikan daku sahabatmu lagi; sesungguhnya engkau telah cukup mendapat alasan-alasan berbuat demikian disebabkan pertanyaan-pertanyaan dan bantahanku.

Kemudian keduanya berjalan lagi, sehingga apabila mereka sampai kepada penduduk sebuah bandar, mereka meminta makan kepada orang di situ, lalu orang itu enggan menjamu mereka. Maka mereka dapati di situ sebuah tembok yang hampir runtuh, lalu ia membinanya. Musa berkata: Jika kamu mahu, tentulah kamu berhak mengambil upah mengenainya!

Ia menjawab: Inilah masanya perpisahan antaraku denganmu, aku akan terangkan kepadamu maksud yang engkau tidak dapat bersabar mengenainya.

Adapun perahu itu adalah ia dipunyai oleh orang miskin yang bekerja di laut; oleh itu, aku bocorkan dengan tujuan hendak mencacatkannya, kerana di belakang mereka nanti ada seorang raja yang merampas tiap-tiap sebuah perahu yang tidak cacat.

Adapun pemuda itu, kedua ibu bapanya adalah orang yang beriman, maka kami bimbang bahawa ia akan mendesak mereka melakukan kezaliman dan kufur.

Oleh itu, kami berharap agar Tuhan mereka gantikan bagi mereka anak yang lebih baik daripadanya tentang kebersihan jiwa, dan lebih dekat sayangnya.

Adapun tembok itu pula, adalah ia dipunyai oleh dua orang anak yatim di bandar itu; dan di bawahnya ada harta terpendam kepunyaan mereka; dan bapa mereka adalah seorang yang soleh. Maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka dewasa dan dapat mengeluarkan harta mereka yang terpendam itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Dan aku tidak melakukannya menurut fikiranku sendiri. Demikianlah penjelasan tentang maksud dan tujuan perkara-perkara yang kamu tidak bersabar atasnya.

Sumber – Al Quran, Surat Al Kahfi ayat 60-82

Kita gak tau dan sukar untuk bisa menyangka hal yang terjadi dengan kita. Apalagi ketika kita sedang mengalami musibah atau sedikit kesulitan. Sebelum kita sampe buat memahami hikmahnya, kita seriing banget menyalahkan keadaan, orang lain, bahkan diri kita sendiri, lebih parah nyalahin Yang di Atas. Hal itu lah yang ngebuat mata hati kita tertutup. Sayang banget kan, dengan masalah yang kita aja ngos2an, kadang putus asa dibuatnya, tapi justru kita gak dapet apa2, gak belajar apa2. Padahal semua itu terjadi dengan janji Allah,

Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu Kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. (Al Mu’minun ayat 62)

Mungkin menurut aku, ini masalah dari sudut pandang mana kita biasa melihat. Hati tadi tertutup karena terlalu banyak yang kita khawatirin, klo kita mau jujur sama diri sendiri, semua hal yang kita khawatirin itu bersifat duniawi semata, semua! Contohnya nih ya, kayak lagu Mulan yang liriknya “..bukannya aku takut akan kehilangan dirimu, tapi aku takut kehilangan cintamu..”. Siapa yang bisa menjamin dia gak akan kehilangan cinta pacarnya? Gak ada kan.. Apa jadi nya klo dia bner2 kehilangan. Bukan khawatir akan hal2 begitu yang seharusnya kita khawatirin. Percaya deh, sebaik-baiknya manusia, mereka gak akan bisa bener2 memahami kita, gak akan paham betul apa yang terbaik untuk kita. Cuma Allah yang tau apa yang terbaik untuk kita, cuma Allah yang pahaam betul perasaan kita, kebutuhan hati kita. Semua yang terjadi sama kita, seberat apapun saat itu yang kita rasain, kita cuma perlu sabar. Karena cuma waktu yang bisa membuktikan bahwa segala yang terjadi itu adalah yang terbaik untuk kita. Allah tuuh baiik banget..Ia dengan cara-Nya sendiri gak akan ngebiarin kita tersandung lalu jatuh. Tapi klo kita jatuh, itu atas kemauan kita sendiri. Tapi klo kita sigap menahan dengan kaki satu lagi, Insya Allah kita gak akan jatuh. Justru kita jadi tau bahwa dijalan itu ada lobangnya. Jadi kita bakal hati-hati untuk selanjutnya. Jadi khawatir bukan untuk masalah itu, tapi khawatir bisa gak hati kita terbuka buat menerima hikmah atas masalah yang ada. Balik lagi seperti inti ayat tadi..sabar.. Karena kedewasaan dan pembelajaran itu sendiri butuh proses, proses itu adalah waktu, dan kapan waktu terbaik itu sudah ditakdirin Allah buat kita. Semakin terbuka hati kita menerima, akan semakin banyak kita mengerti, semakin cepat kita pahami, dan semakin ringan masalah itu terlewati. =)

Oia, FYI, siapa yang baca surat Al Kahfi ini tiap jumat, maka  dia akan bercahaya di antara Jumat tersebut dan cahaya itu bakal menyinari kita ketika melewati jembatan Shiratal Mustaqim..Insya Allah.