Tuhan, jangan izinkan aku menjadi pelacur!
Memoar Luka Seorang Muslimah
Biarlah aku hidup dalam gelimang api-dosa, sebab terkadang dosa yang dihikmati, seorang manusia bisa belajar dewasa.
Karya : Muhidin M Dahlan.
2 hari yang lalu aku baru beli novel ini di Gramedia. Novel ini baru aku tau ternyata novel lama tahun 2002/3 klo gak salah. Dan banyak banget pro dan kontra atas terbitnya novel ini. Yang konon katanya dulu susah nyari novel ini. Aku sendiri yah gampang kemaren dapetnya. Dan jujur aku tertarik karena ada kata-kata ”Memoar Luka Seorang Muslimah”, dan kutipan hikmah “dosa membuat manusia belajar dewasa”. Buku ini memang sebenernya agak sedikit membosankan, tapi aku penasaran sama akhirnya.
Ini kisah seorang perempuan bernama Nidah Kirani. Seorang muslimah yang taat. Tubuhnya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar. Kecintaannya pada agama membuat dia memilih untuk hidup yang sufistik. Dan keinginannya hanya satu yaitu menjadi muslimah yang beragama secara kiffah.
Semangatnya dalam beragama seperti gayung bersambut ketika ia menerima doktrin-doktrin bahwa Islam yang ada di Indonesia sekarang ini tidak murni. Yang murni hanya ada dalam Quran dan Sunnah Rasul. Dengan tafsiran, Islam itu bukan agama. Islam itu Dien atau sistem yang hukum-hukumnya ditata dalam syariat. Klo belum ada pemerintahan untuk mengegakkan syariat itu, maka bukan dikatakan Islam. Singkatnya ia ikut tergabung dalam organisasi itu, Organisasi dimana jemaahnya ingin mendirikan negara Islam di Indonesia. Setelah sekian lama tergabung dalam organisasi itu, ia merasa tidak ada kemajuan dalam organisasi nya. Sistem yang tidak transparan yang didalamnya terdapat kepalsuan dan kebohongan. Nidah Kirani merasa sangat kecewa. Belum lagi banyak masalah yang timbul akibat keaktifannya dalam organisasi itu. Bukannya segera bertobat dan kembali ke jalan Allah. Ia malah justru merasa kecewa dengan Allah. ia merasa tidak ada intervensi dari Allah padahal ia telah sebegitu berjuangnya selama menegakkan agama.
Di saat kondisi nya yang galau, ia justru melampiaskan kekecewaannya dengan melakukan free sex. Disini penulis menjelaskan bahwa semua yang tergoda oleh Nidah Kirana untuk melakukan freesex adalah pria-pria yang merupakan aktivis Islam. Mereka adalah orang-orang munafik pikir Nidah. Akhirnya ia pun menjual diri nya pada para pria. Pelacur, pilihan yang dia pikir lebih menguntungkan ketimbang hanya sekedar freesex dengan teman-teman kampusnya.
Akhir cerita yang gak jelas. Liat dari berapa kalimat terakhir di novel ini.
“Aku sang nabi kejahatan, akan menemui kehidupan bumi yang makin lama makin gelap. Nantikan aku manusia-manusia! Aku, sang nabi kejahatan, sang putri api, akan terus mengganggu, menyobek-nyobek, dan membakar topeng-topeng kemunafikan hidupmu. Tunggu saja. Aku segera datang. Segera datang.”
Aku lebih banyak kontra atas isi novel ini daripada pro. Kata-kata renungan di cover novel ini tidak mewakili isinya. Gak ada penulis sedikitnya mengajak kita buat memetik hikmah dari cerita ini. Biar kita menerjemahkan sendiri? Menurut saya novel ini, sangat tidak mendidik. Bukan tergolong novel dakwah atau novel Islami. Semua dijelaskan hanya dari sudut negatif dari islam. Kata-kata nya yang begituu vulgar saat menjelaskan kelakuan Nidah dan pasangan-pasangannya. Buat aku cerita ini dengan imajinasi yang agak sedikit memaksa. Dan cara penulis menuliskan kemunafikan seorang muslim, seolah semuanya munafik. Dari cerita Nidah Kirani dari yang berjilbab panjang kemudian jadi pelacur, dan aktivis2 Islam yang akhirnya gampang sekali tergoda oleh Nidah untuk melakukan freesex. Jujur aku kecewa dan sedikit marah membacanya. Kenapa sedikit? Karena yah sesalah-salahnya ada yang bisa kita pelajari dari sana.
Kabarnya buku-buka karangan Muhidin M Dahlan ini rata-rata mengandung kontroversi dan agak melenceng dari tafsiran biasa. Seolah menentang paham dan ajaran yang telah ada. Dan menjadi perseteruan paham-paham keagamaan di Indonesia. Mungkin isinya melambangkan hati penulisnya kah? Atau seperti ada yang mengkritik ada zionis di balik penerbitan buku ini? Dan ada yang bilang merusak iman remaja?
wallahualam
Ini kutipan dalam novel ini. Bner-bener mengerikan..
Ke mana pun Engkau berlari, aku akan terus mengejar pertanggungjawaban-Mu. Ini janjiku kepada-Mu, Tuhan. Karena Kau telah menciptakanku, maka Kau harus menyingkap misteri-misteri-Mu kepadaku. Aku takkan pernah mengabdi kepada-Mu seperti yang dilakukan pendusta-pendusta dan orang-orang pandir itu. Sampai Kau pun memberiku gelar sang nabi kejahatan karena aku akan menyebar kerusakan-kerusakan di seluruh bumi ini atau Kau sibak semua dari hakikat ini: penciptaan, kehidupan, eksistensiku, dan juga Kau sendiri. Aku bersumpah, tak akan mau menerima apa pun yang tak jelas dari-Mu.
BEBERAPA CATATAN KRITIS BUKU INI DARI BEDAH BUKU “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Memoar Luka Seorang Muslimah” karya Muhidin M. Dahlan (Sumber Khilafah)
A. Stigma Negatif Terhadap Gerakan Islam
Buku ini menarik untuk dibaca dan menantang. Terutama bagi para aktivis gerakan Islam. Sebab yang dikisahkan adalah perjalanan seorang aktivis gerakan Islam. Tapi, yang lebih penting adalah, apa sebenarnya tujuan penulis buku dengan bukunya ini? Dengan melihat maraknya seruan menerapkan Syariat Islam belakangan ini, maka buku ini dapat dipahami posisinya. Yaitu secara tidak langsung ingin membentuk citra negatif bagi gerakan Islam yang ingin menegakkan Syariat Islam. Caranya adalah mengekspos perilaku oknum mantan anggota gerakan yang justru kontradiksi dengan Syariat Islam itu sendiri, seperti mengkonsumsi narkoba dan seks bebas. Juga dengan mengekspos perilaku bejat oknum anggota DPRD yang konon dari fraksi yang memperjuangkan Syariat Islam. Semua ini bertujuan agar masyarakat tidak mempercayai lagi perjuangan untuk menegakkan Syariat Islam, karena toh perilaku para aktivisnya sangat munafik, bejat, dan amat jauh dari Syariat.
Seharusnya, kita bisa melihat secara dewasa fenomena tersebut. Ide-ide (sebagian) gerakan Islam yang dirasakan sebagai dogma, memang faktual adanya. Tapi itu tentu tidak bisa digeneralisir. Apakah semua gerakan Islam mendogma para aktivisnya? Apakah semua gerakan Islam memperlakukan aktivisnya seperti kerbau yang dicocok hidungnya tanpa boleh berpikir dan mendiskusikan ide-ide gerakan?
Begitu pula perilaku menyimpang dari Syariat Islam, juga faktual adanya pada sebagian aktivis. Tapi apakah itu berarti Syariat Islam yang salah? Apakah ide Negara Islam yang salah? Apakah Tuhan yang salah? Mengapa kita tidak menyalahkan sistem sosial sekuler yang menciptakan ruang-ruang bagi perliaku liberal yang bejat? Mengapa kita tidak menolehkan perhatian kita pada struktur masyarakat kapitalis sekarang, yang melahirkan ketidakadilan dan ketimpangan, sehingga lahir orang-orang termarjinalkan seperti anak jalanan dan pelacur? Mengapa semua keburukan ini mesti dialamatkan kepada Tuhan? Mengapa?
B. Menyisipkan Pandangan Kufur
Hubungan pandangan hidup (filsafat) dan sastra sangatlah erat. Sastra seringkali meruapkan ekspresi dari pandangan hidup atau filsafat yang dianut penulisnya. Wellek dan Waren dalam ‘Theory of Literature’ (1956:110) mengatakan, ‘Frequently literature is thought of as a philosophy, as ideas wrapped in form, and it is analyzed to yield leading ideas.’
Maka, buku karya Muhidin M. Dahlan ini juga dapat dianggap sebagai pengungkapan ideologi atau pandangan-pandangan hidup penulisnya. Sayangnya, bukan ide Islam yang menjadi substansi atau roh dari karyanya, melainkan ide-ide kafir. Misalkan saja, pandangan penulis bahwa agama adalah candu masyarakat, yang menipu manusia dari hakikat kehidupan, benar-benar sejalan dengan pandangan Karl Marx. Perhatikan ungkapan penulis di halaman 236-237 :
‘Kuberitahukan kepada kalian semua. Hai semuanya: masyarakat bumi adalah masyarakat pecandu yang sudah sangat jauh lari dari esensi mereka hidup. Mereka bisa bertahan hidup hanya dengan candu. Kulihat mereka sekarang dalam kondisi mabuk. Hidup mereka menjadi stagnan, mandek. Bagaimana tidak, inti hidup sendiri, yang memandu kehidupan mereka, ialah keyakinan tentang Tuhan yang tak pernah jelas dan sesungguhnya rapuh.’
Bandingkan khotbah Muhidin itu dengan ungkapan Karl Marx (w. 1883) :
‘Religion is the sigh of the oppressed creature, the hearth of a hearthless world, just as it is the spirit of a spiritless situation. It is the opium of the people.’
(Agama adalah keluh-kesah dari makhluk tertindas, kalbu dari suatu dunia yang tak berkalbu, dan jiwa dari suatu situasi yang tak berjiwa. Agama adalah candu bagi rakyat).
(Lihat Karl Marx, ‘Contributin to The Critique of Hegels Philosophy of Right’, dalam ‘On Religion’, hal. 41-42)
Jadi, apakah Muhidin M. Dahlan seorang Marxis? Wallohu’alam. Yang jelas, dalam karyanya bisa ditemukan serat-serat pemberontakan dan pelecehan terhadap agama, sebuah ciri khas Marxisme.
Ide-ide kafir lainnya yang cukup kental dan bisa dirasakan, adalah kebebasan (liberalisme). Dalam arti tidak adanya keterikatan dengan sebuah norma yang baku. Norma agama dianggap sebagai dogma yang HARUS dihancurkan. Ini juga khas filsafat Barat, khususnya filsafat eksistensialisme yang sangat menuhankan kebebasan (Lihat, ‘Eksistensialisme: Keberadaan Manusia”, dalam Ide-Ide Besar Sejarah Intelektual Amerika, Suparman dan Malian, 2003, hal. 9). Maka ketika penulis mempropagandakan kebebasan dengan melukiskan Nidah Kirani yang menikmati eksistensi dirinya sebagai pelacur, yang begitu melecehkan pernikahan, yang mempersetankan agama dan Tuhan, semua itu jelas adalah ekspresi dari kebebasan. Yang kufur, liar, dan tidak bertanggung jawab.
C. Bahasa Vulgar
Jika kita hendak mencari karya sastra dengan bahasa yang vulgar, kasar, buku Muhidin M. Dahlan dapat diambil sebagai sampelnya. Bahkan saking vulgarnya, ada dua halaman dalam buku itu yang disensor dengan tinta hitam, sehingga beberapa kata atau sebaris kalimat tidak bisa dibaca (hal. 102-103).
Diksi (pilihan kata) yang disajikan terkadang mengesankan, bahwa penulis adalah orang yang tidak punya tata-krama dan tidak berpendidikan. Dengan permohonan maaf, kami sajikan contohnya di halaman 194 :
‘Hubunganku dengannya tak kurang dan tak lebih semata hanya seksnya saja untuk pelampiasan kekosonganku. Lain tidak. Cinta? Taik.’
Mungkin saja, buku ini bagi orang dewasa hanya sebagai entertainment saja. Tapi bagi orang muda yang sedang mencari jatidiri, yang belum matang, pilihan kata penulis buku akan menjadi semacam ‘ayat suci’ yang akan menentukan sikapnya kelak. Maka, kekasaran jiwa, kevulgaran yang telanjang, sikap tak mengenal kehalusan bahasa dan kesantunan kata, akan berpotensi semakin merusak mental bangsa kita (yang sudah rusak ini) untuk jangka panjang. Muhidin M. Dahlan akan turut bertanggung jawab untuk hal ini.
D.Menawarkan Kegelapan
Hal yang paling mendasar yang ditawarkan penulis, adalah kegelapan. Betapa Nidah Kirani digambarkan mengalami kekosongan jiwa dan pikiran setelah melalui petualangannya yang hancur-hancuran (hal. 243). Tidak ada tawaran secercah sinar yang bisa membimbing. Buku ini menawarkan kehampaan, kekosongan, ketiadaan. Nihil.
Dalam dunia filsafat, kekosongan dan kegelapan adalah ciri khas dari sastra yang beraliran eksitensialisme. Dan itu, sebenarnya bukan lagi pemberontakan terhadap agama, tetapi malah sebuah agama alternatif yang sengaja dibuat oleh para eksistensialis, untuk menjadi pembimbing kehidupan dalam situasi modern yang chaos. McElroy (1972:36) seorang penulis eksistensialis, ketika menggambarkan siapa itu kaum eksistensialis, dia mengatakan, ‘… a group of thinkers who are attempting to develop an alternative religious discipline as a guide for living in the chaos of modern world.’ Maka dari itu, tawaran Muhidin M. Dahlan sebenarnya adalah suatu agama alternatif. Dia bikin agama baru. Tuhannya adalah hawa nafsu manusia. Mungkin Muhidin adalah nabinya, yang sedang giat menggembar-gemborkan ajaran yang kafir kepada umat manusia, agar umat manusia bertaklid buta dan mengekor kepadanya menuju kegelapan yang abadi. Mengerikan..

Saya sendiri belum baca novelnya, tapi ada yang janggal memang, bisa dijelasin lebih jauh ngak alasan kenapa tokoh ini melenceng dari ajaran islam?
…ia merasa tidak ada kemajuan dalam organisasi nya. Sistem yang tidak transparan yang didalamnya terdapat kepalsuan dan kebohongan. Nidah Kirani merasa sangat kecewa. Belum lagi banyak masalah yang timbul akibat keaktifannya dalam organisasi itu…
kalo memang cuman alasan diatas, kayaknya memang novel yang aneh
@ yuda
memang aneh,,klo belum beli. Saran saya memang gak usah dibeli. Maav, bukannya melecehkan karya orang tapi kata-kata nya memang ekstrim. Menentang Tuhan. Buat apa? Klo mau belajar dan membuka pikiran, masih banyak novel2 dakwah islami yang lain yang lebih berbobot. Tadi saya tambahin beberapa kutipan dalam novel yang aduh..bkin saya geleng-geleng koq bisa wlopun hanya berimajinasi mengeluarkan kalimat2 seperti itu.
Alasan di buku itu memang cuma karena dia kecewa sama Tuhan, dia justru menyalahkan Tuhan. Padahal yah secara logika itu pilihan dia. Dia harusnya menyesal sempet sesat. Mungkin umumnya begitu. Tapi disini, dia justru jadi menantang Tuhan, menyalahkan Tuhan kenapa dia diciptakan.
Kira-kira, sebagai orang yang beragama dan yakin, sampe hati kah bisa menulis kata-kata seperti itu kepada Tuhan meskipun hanya untuk menyibak hal-hal tabu yang belum terkuak?
Klo saya, engga..
Dan yang bikin saya gak suka, Tuhan dan Agama yang diyakini dalam novel ini Islam. Sungguh, cerita ini membuat pandangan yang semakin jauh dari agama.
lha, klo untuk sebuah novel itu ngak masalah mas..
baca dolo.. dong..!
masih untung ada org jujur trus djadiin novel ceritanya…!
Cobaan memang datangnya bermacam-macam, ada kelapangan ada juga kesempitan, kegagalan dalam hidup adalah ketika orang memutuskan untuk berpaling dari yang diatas apapun cobaannya.
Thanks Indah atas ulasannya, Saya tunggu ulasan lainnyanya untuk buku bertema islami yang lebih mendidik
syukron ulasanya,,
saya coba beli novelnya, biar saya tau sendiri.
tapi yang jelas “katakanlah kebenaran walaupun iutu pahit”
aku suka pada kata” nabi kejahatan..
kata”nya bagus,tpi sayang maknanya g bagus..
Pertama kali melihat judulnya, saya langsung tertarik namun btapa kcewanya saya stelah selesai membaca ternyata isinya
sangatlah tidak mendidik,, mnurut saya pribadi lebih baik buku tersebut ditarik dari peredaran.
Awalnya sempet bingung, yg nulis ne buku muslim ga sih??
Stelah baca sdikit latar blakang pnulis, emg muslim, KTP doank kali tapi pmikirannya ga islami bgt.
Menyalahkan Tuhan adalah pikiran orang picik, nggk mau cari penyebab kesalahan itu…
Normal bertanya kepada Tuhan dengan “Kenapa dan Kenapa” tapi sampe me judge Tuhan,,,,, kualat bossss…
Ass.
Menarik tentang ungkapan Karl Marx …. agama adalah candu masyarakat. Dalam konteks masyarakat di mana dan kapan Karl hidup bisa jadi agama yang dilihatnya memang merupakan candu bagi masyarakat, suatu kayakinan yang kabur dan penuh kepentingan kelompok tertentu.
Manusia yang telah diberi kehendak, memang menjadi Tuhan atas dirinya sendiri.
aku baru membacanya.
sungguh menakjubkan isinya.
begitu gelapnya isi didalamnya.
untung aku tak terpengaruh oleh isi dari novel tersebut.
penulis pun benar2 terang2an menyebut universitas dimana lakon utamanya menuntut ilmu.
sungguh sangat mencoreng nama baik univ tsb.
aku sangat kecewa!!
novel ni kren bgt, prtma kali sy bca jdulx sj…sdah tertarik…….tryta isixpun TOP BGT
Menarik juga untuk dibaca, setidaknya sebabagai bahan renungan… Memang kadang kita menemukan seorang yg katanya aktivis Islam, ternyata dibelakangnya seorang yang munafik, pengalaman ane sendiri berteman dengan beberapa aktivis organisasi pejuang khilafah menunjukkan itu… but, itu tdk bisa dijadikan stigma, hanya sebuah kebetulan, mungkin… anehnya, hal ini bukan hanya satu kali, juga bukan hanya satu orang…. tauk ah, gelap
amor fati fatum brutum aja lah…
hhehehehee,namanya aja karya,,psti ada aja mslhnya…
biar yg BERHAK aja menghakiminya,,toh kita bukan hakim,,n kita ga punya kemampuan membaca apa yg dia maksudkan dlm tulisan selain ketidak sopanan yg tertulis…
apa ada mksd lain yg ingin disampaikannya dgn cara yg berbeda?? mgkn saja…
aku jadi makin penasaran…….. buat baca,
seEKSTRIM apa sih kata-katanya?????
wah,,,,,,,,,
aku jadi pengen banget ma bukunya,,,,
jgn lach klo sampe mengkritik Tuhan, ini mgkin luapan emosi aja, dg sgla kterbatasan yg nampak.
wah, untung gw gak jadi beli nih buku, kemaren ditawar2in ama staffnya gramed…
ampe diceritain synopsisnya jg ..hehe…
Wek”…
Antalah
kalo orang udah benci,
jangankan kita mmaling, liat kita baca qur`an, kita tetap aja jelek,
nah, penyakit hati itu yang dialami penulis yang konon katanya cerita nyata…
bukan sebab ia ikut organisasi islam ia begitu, tapi memang udah punya rasa tidak senang dengan Islam sebelumnya,,,
padahal, kita ini kan mukallaf, alias orang yang dipaksa… namanya juga numpang, masa` nda` mau dipaksa,
klu tak mau dipaksa, cari tuhan selain Allah sana, klu ada sich…
+
dari sdkt kutipan yg ada,ksmpulanku=”Ak g berminat beli novelnya” seperti ada sdikit bau2 konspirasi zionis dbaliknya.kalopun memang ada tokoh mirip nidah,ak yakin g akan sebejat itu…..,
sbgai seorg muslimah yg kuakui mpe saat ni akupun jauh dr kt2 sempurna sbgai muslimah,tp hatikupun trasa sakit mbaca bbrp kutipan kalimat novel ini….
tp smw brpulang pd persepsi msg2…..monggo kerso,but not me,i choose to ignore this book……..i dont like it…..
..saya sudah membaca novel ini dengan tuntas, tanggapan saya atas novel ini :
1. Sebuah karya tulisan adalah jiwa penulis, kata hati penulis, latar belakang penulis. Tujuan penulisan sebuah cerita akan dipengaruhi tentang banyak hal dan latar belakang aqidah dan sudut pandang menjadi dasar acuan cara penulisan.
2. Saya yakin penulis novel ini memang mencari kontroversi dengan menempatkan sosok budayawan atheis sebagai idolanya, dan anand khrisna yang juga ndak jelas agamanya menjadi junjungannya, sementara ideologi kiri yang akan dipublikasikannya dengan mensejajarkan gerakan2 islam liberal menjadi cita2nya. Ingin membauat kehancuran generasi islam yang sudah kacau dinegri ini menjadi manusia atheis tak bertuhan.
3. Sebuah pengakuan jujur dan mengamininya ketika ada kritikan tajam tentang “kesampahan” novelnya dan doa dari luar “semoga masuk neraka penulis ini”. Tak ada kata sesal dan sedih, saya yakin jiwanya sudah seperti penulis sang penghujat islam “the satanic verses”.
4. Penulis novel ini hanya ingin popularitas yang kontroversial laiknya “arswendo atmowiloto”, karena memang begitu mungkin utk menjadi populer harus bikin kerusakan dulu, laiknya artis yang semakin panas semakin tenar.
5. Novel ini kurang pantas, karena menyinggung banyak pihak yang saya yakin kebenaran cerita ini hanyalah mengusung essay fiksi belaka, tidak ada menggugah motivasi sama sekali untuk disebut sebagai novel bermutu.
6. Novel ini ndak usah dibredel, karena hanya membuat penulisnya semakin tenar.
7. Untuk penulisnya, saya berharap bertobat dan buat pertobatan juga untuk para pelakon novel yang anda tulis, sehingga anda mendapati ampunan publik dan semoga ampunan allah, Walaupun allah juga tidak merengek minta diampuni.
8. Pikirkan dampak yang anda kerjakan ini terhadap generasi mendatang, jangan membuat dosa waris turun temurun akbat provokasi anda.
9. Saya yakin anda adalah seorang muslim.
Kekecewaan seorang mantan NII (Negara Islan Indonesia) seperti dikutip ditulisan teteh diatas.
“Singkatnya ia ikut tergabung dalam organisasi itu, Organisasi dimana jemaahnya ingin mendirikan negara Islam di Indonesia”.
Tuhan terkadang memperjalankan seorang hamba yang tidak sesuai dengan keinginan dirinya, banyak cara untuk menuju Tuhan, tetapi dari kutipan
“Ke mana pun Engkau berlari, aku akan terus mengejar pertanggungjawaban-Mu. Ini janjiku kepada-Mu, Tuhan. Karena Kau telah menciptakanku, maka Kau harus menyingkap misteri-misteri-Mu kepadaku. Aku takkan pernah mengabdi kepada-Mu seperti yang dilakukan pendusta-pendusta dan orang-orang pandir itu. Sampai Kau pun memberiku gelar sang nabi kejahatan karena aku akan menyebar kerusakan-kerusakan di seluruh bumi ini atau Kau sibak semua dari hakikat ini: penciptaan, kehidupan, eksistensiku, dan juga Kau sendiri. Aku bersumpah, tak akan mau menerima apa pun yang tak jelas dari-Mu.”
tapi tau gak teh, kadang Allah memperjalankan seorang hambanya itu sangatlah unik dan tidak bisa ditebak
tapi tau gak teh, ini pelacur klo dah tersibak ke Maha Misteriannya Allah, maka dia akan menjadi seorang hamba yang benar2 taat dan menjadikan Allah sebagai Kekasihnya.
…gak sengaja tadi masih ada di toko buku g***m****…. penasaran dengan judulnya, trus baca sinopsisnya dibagian belakang buku…sudah bisa kebanyang isinya bakalan bukan bacaan yang sehat…
Eh.. tau nya memang bener….
Ketika membaca judulnya saya sempat penasaran…tapi setelah membaca isinya, sy cb menarik beberapa kesimpulan. Selintas buku ini memang sedikit vulgar dan terang-terangan menantang Tuhan…Nidah Kirani beranggapan bahwa Tuhanlah yg menyebabkan ia tersesat sehingga ia coba menentang Tuhan…tapi disisi lain, sy melihat penulis ingin menggambarkan bahwa saat ini cukup banyak sosok-sosok seperti Nidah Kirani…mereka kecewa dengan dogma2 agama yg selama ini mereka yakini tapi berakhir hampa dan kosong….sy jg sepakat dgn penulis…kt tak bisa menilai sesorang dari segi penampilan saja…bak kata pameo sekarang ”Muka Macam Nabi,Kelakuan Macam Setan” dan yang seperti ini sangat banyak terjadi ditengah masyarakat kita….
i like it ..
hmff.. judulnya menarik saya untuk segera membacanya tapi isinya,,,,
maksud tujuan isi buku ini apa y?????
ini bukan buku islami tp kok masuk golongan buku islami??????
Menurut saya, tidak ada hikmah yang dapat diambil dari buku ini,di akhir cerita dikatakan bahwa, akulah perempuan api,yang seolah-olah ia sangat senang, bebas dengan keadaannya saat itu yang telah kotor dan ternodai, cerita yang mengatakan bahwa ia adalah seorang muslim hanya ada pada awal ceritanya saja.
saya baca buku ini sekitar tahun 2003/2004 waktu SMA dan belum memahami islam sebaik sekarang (masih pencarian), buku ini memang ‘sarat pesan’, jadi memahami yang dimaksud ‘musuh dalam selimut’ / ‘duri dalam daging’, ternyata yang melakukan pencitraan negatif thd Islam ya orang islam itu sendiri..
sy pernah bc novel ini…tp jgn tllu extrim lah menghakiminya…g baik…blm tntu seperti itu…klo mslh dbc am org yg labil n mjdikany tmbah labil (y slh sndiri sp suruh bc)
komentar : tulisan mencerminkan orangny bukan hany berlaku pada penulis buku tapi juga bagi anda smua yg telah berkomentar
adanya hikmah ato tidak itu tergantung seluas apa pandangan anda……(kan bs jadi bahan (dimaknai) untk bsyukur jg…alhamdulillah Ya Allah aq akan sll MengingatMu, trimksh telah membiarkan aq untuk masih bisa menyebut namaMu)
)…
hayoo telusuri diri qt lbh dlm lg
Saya sudah baca buku ini.
Baik buruknya, itu kembali ke kita. Toh, hal negatif bisa jadi positif.
Tapi yang pasti, buku membimbing kita agar tidak menindas kaum wanita, yang memang selama ini di nomor duakan. ^^
keren banget, aku juga udah beli.
ini buku ttg kemanusiaan, jg ttg sifat2-nya. menurut sy (agak lupa lg, dah agak lama sih) buku ini bg sy termasuk the Best, dgn sarat makna didlmnya. kalau bahasa yg vulgar atau kasar, buku ini tdklah sekasar kita dlm pergaulan sehari2 yg justru lbh terlihat brutal jika dibukukan.
eksistensialis biasanya berakhir dgn atheis, bukan agama baru.
sebaiknya buat anda yg kontra, tdk menggiring publik dgn menyebutkan bermutu atau tdk-nya, krn dgn bgt anda tdk menghargai perbedaan.
jgan hanya berkritik krna kita smua tdk tau yg menjadi orientasi penulis…
bagi saya banyak hal yg sangat mendewasakan ku dari aspek agama
yg smpat aku petk dari coretan itu,,,,mungkin hanyalah sbgian kecil dari banyaknya makna yg tersirat dari buku itu..
aku sangat setuju dengan muhidin
sebab apa????
dya tidak lagi dari realita apa yg terjadi dengan islam khususnya penganutnya
kalau kita kaji dengan substansi
semua agam itu benar
-mengajarkan kebaikan dan mengakui 1 tuha
tapi yang hari ini kita yakini sampai skrg adalah qur-an