Filosofi Hidup

by Indah Parmalia

Ternyata benar bahwa apa yang Kau berikan adalah yang terbaik. Hati kami tak mampu membacanya; mulut kami tak mampu mengatakannya; pikir kami tak mampu menghitungnya. Kami bersyukur padamu

Saat ini –saat dimana kesedihan menggugu, hati pecah membelah, asa serasa bersayap– saat itulah aku merasa intervensi Allah menjabah doa-doa ku.
Akan selalu ada dan akan selalu terjadi dimana hati dan logika kita tidak dapat menembus takdir.
Ya..Allah memiliki waktu-Nya sendiri dalam bertindak.
Ternyata semua permasalahan yang ada tidak perlu kita cemaskan hanya dengan percaya tentang hal itu.

Blog..aku mau cerita..
Cerita yang sangat perlu aku tulis. Yang akan sangat penting buat aku baca lagi. Yang tentunya dengan apapun alasannya akan membuat aku lebih menyayangi air mata. Yang apabila aku jabarin, akan memiliki teorema baru sedikit-dikitnya untuk hidupku sendiri.

Dia, hanya karena seorang dia yang Allah perkenankan namanya untuk tertulis dalam hidupku. Gak pernah saat itu terbesit pertanyaan kenapa aku harus kenal dia. Pertanyaan yang jarang terlintas pada awal setiap pertemuan. Singkatnya, dia yang sempet jadi payung dan sepatu buat aku (hohoho). Menemani di kala susah. Menyemangati di kala putus asa. Menopang di kala lelah. Melihat di kala merabun. Menuntun di dalam gelap. Lengkap! No one ever saw me like he do and no one ever saw him like I do. Dan semua tampak amat sempurna saat itu. Impian membumbung tinggi. Harapan tak jua putus. Dan syetan juga semakin gencar dikomandoi anak iblis. Yang terakhir itu lah hal yang paling kami berdua takuti. Hanya dalam hal itu sulit buat kami untuk saling menguatkan. Jadi sepasang tokoh yang entah disenangi atau diibakan tapi diramalkan untuk pengenang. Cinta itu begitu cepat merambat, mengakar, tanpa terasa cepat pula merapuh. Tetapi berbunga indah, merekah, mewarni. Susunan ribuan puzzle seakan dia yang terakhir. Begitu terlengkapi karenanya. Sahabat dan keluarga bahkan dapat menjembatani silaturahmi kami.

Allah memang sangat mencintai kami. Cemburu pertanda cinta. Seakan Ia tidak rela membiarkan kita mencintai suatu hal melebihi cinta kita pada-Nya. Begitulah cara Allah, – pelajaran berikutnya – dapat membaca hal yang membayangkannya pun kita gak sanggup. Mungkin..mungkin..Allah hanya menitipkan cinta itu sementara atau mungkin kami salah mengaplikasikan hakekat cinta itu sendiri sehingga Allah marah dan membiarkan kami belajar dengan mencabutnya kembali. Lillahita’alla. Sungguh hanya Allah yang saat itu tau. Cinta itu dengan keajaibannya begitu cepat Ia tarik kembali. Tapi..kenapa Allah tidak mencabut sekaligus cinta dalam hati kami berdua? Kenapa Allah hanya membiarkan logika si dia mengalahkan cinta kami? Mengapa belum juga membiarkan logika ku merambahnya? Sungguh saat itu pertanyaan serasa percuma. Gak ada yang bisa ngebantu aku menjawabnya. Hanya dengan sedikit sedikit (sesungguhnya Allah telah..) rahmat yang Allah kasih ke aku. Aku belajar..
Dimana dan kemana aku bisa ketemu jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Yang jelas, – pelajaran berikutnya – sesungguhnya disinilah justru Allah perlahan dan dengan cara-Nya sendiri membimbing aku secara langsung tanpa aku sadari.
Aku semakin penasaran apa yang salah. Pertanyaan-pertanyaan itu buat aku belajar untuk ngejawabnya. Saat itu aku sedih..bener-bener sedih.. – meskipun sekarang aku bersyukur sempet jadi wanita yang mudah menangis – Coba bayangin..gimana rasanya impian dan harapan yang kita bina merangkak mendekati nyata tiba-tiba hancur begitu aja? Butuh proses buat mengakui, menerima, sehingga akhirnya bisa bangkit kembali. Dan itu bukan lah hal yang mudah. Hal-hal yang bisa bikin aku bertahan saat itu – pelajaran berikutnya – Aku inget aku gak pernah berhenti berdoa, aku gak pernah putus asa atas rahmat Allah, aku gak pernah ngerasa gak adil, dan ntah darimana aku yakin ini cuma proses.

Tapi aku tetep nunggu dia. Aku pernah minta dia bilang klo suatu saat dia gak sayang lagi sama aku. Karena meskipun semuanya harus berakhir, awalnya sulit bahkan buat kami berdua bisa jauh. Meskipun akhirnya dia duluan yang berhasil. Semua orang di sekeliling aku sedih dan aku tau mereka ikut sedih bukan prihatin karena mereka tau gimana sayangnya kami berdua. Bahkan..kak mario bilang, “kalian itu pasangan yang paling kakak idolain” haha.. Tapi dalam proses itu, aku justru semakin akrab sama temen-temen nya dan tanpa aku sadari aku ngerasa mereka bukan cuma sahabat mantan aku, tapi mereka juga sahabat yang baik banget buat aku. Meraka bahkan gak terkesan membedakan aku yang baru mereka kenal. Mereka lebih objektif menilai sesuatu. Itu yang ngebuat aku nyaman dideket mereka. – pelajaran berikutnya – ini namanya patah satu tumbuh seribu, patah lagi tumbuh lagi.

Gila..ini bener-bener penantian. Ini rasanya menunggu. Ini rasanya mencintai. Ini rasanya kehilangan. Ini rasanya berharap. Lebih-lebih lagi..semuanya itu tampak hampa. Kosong tanpa masa depan. Menunggu tanpa ditunggu (kosong), mencintai tanpa dicintai (kosong), berharap tanpa harapan (kosong). – pelajaran berikutnya – mungkin ini Filosofi angka nol (0). Terlihat tak bernilai, tapi tetap bermakna. Seperti angka 0 klo dipasangin dengan 1 jadi 10. Seperti menunggu yang akhirnya bertemu.

Aku mikirin dia. Aku mikirin perasaannya. Aku gak mau dia sedih. Karena aku pun bakal lebih sedih lagi. Setiap aku deket sama orang lain, aku mikirin dia. Bodohnya selalu aku inget janji kami. Bodohnya aku terlalu setia menunggu. Selalu..selalu..aku ngerasa gak tahan. Tapi aku tau..saat itu aku tau aku sudah jadi bebannya. Meskipun sakit, meskipun karena dia aku sakit. Aku tetep gak mau dia terbebani karena aku. Aku masih menyimpan harapan.. Tapi kenapa Allah belum juga ngasih petunjuk?

Malem ini..barusan aja..ntah disaat aku lagi sedih, temennya (makasih ya ka deny) bilang “nda, sebenernya dia bilang dia gak mungkin lagi bisa kayak dulu. Dia gak bisa lagi. Tapi dia sedih ngeliat nda gini. Dia ngerasa bersalah. Dia gak mau liat nda sedih. Kalian ga mungkin lagi. Kalian gak mungkin lagi.”
Aku ngerasa ditampar dengernya. Aku kaget sekaligus aku bangun dari tidur aku yang lamaa bener.

Oh..God..kenapa aku baru harus tau sekarang?
Jawabannya gak perlu harus menunggu lagi buat aku jawab. Allah sayang sayang banget sama aku. – pelajaran berikutnya – Rahmat Allah. Allah tau sebelum aku di Rahmati, Allah pengen aku belajar terlebih dahulu dengan rahmat-rahmat kecil sebelumnya. Dan Allah sedang menguji dan mengasah kesabaran, kedewasaan, ketakwaan, dan keimanan aku. Ini berarti sebagai manusia yang gak pernah bener-bener menjadi dewasa aku belajar lebih baik.

Aku langsung nelfon dia. Aku bilang aku tau dari kak deny apa yang sebenernya sulit buat dia ungkapin selama ini. Aku sungguh gak nyalahin dia kenapa dia gak bilang dari dulu. Karena aku yakin Allah udah punya rencana dibalik keterbatasan kita membaca keadaan. Aku merasa berhasil mendaki puncak gunung tertinggi. Ternyata kepuasan dan keberhasilan itu tidak selalu berarti ketika kita mendapatkannya. Hasil itu sungguh gak bisa di prediksi, tapi proses justru jadi pembelajaran buat kita meraih hasil yang lain di lain kesempatan.

Buat kamu,
Yah, aku tau dengan status apapun kita, itu bukan alasan rasional buat aku menjauh dari kamu. Semua yang kamu takutin Insya Allah gak akan terjadi kecuali itu terbaik menurut Allah. Aku ikhlas…cinta itu memang sebenarnya bukan milik kita, tapi milik Allah AL MUHAIMIN..